top of page

Lean Career: Framework untuk menemukan karir ideal melalui eksperimen | #36

Framework ini gue pakai ketika gue resign dari kerja kantoran dan bangun usaha sendiri



Hi buddy!

Di episode kali ini gue mau bahas framework yang udah gue pakai untuk menemukan karir yang ideal. Framework ini gue namakan Lean Career karena terinspirasi dari buku yang berjudul Lean Startup. Gue akan bahas

  • Landscape job market saat ini

  • Konsep dan cara mempraktekan lean career

  • Gimana gue menggunakan lean career untuk memulai usaha gue

Let’s go!


Kita dihadapkan dengan banyak pilihan di job market

Gue pernah clueless banget tentang seperti apa karir yang gue mau.

Bukan hanya karena gue belum punya clarity tentang gambaran karir ideal versi gue, tapi juga kondisi job market yang mengalami banyak perubahan.

Saat itu, gue mengidentifikasi 3 hal dari kondisi eksternal yang bikin gue galau mau memilih jalan karir gue.


1. Banyak role baru yang bermunculan

Sewaktu gue lulus dulu, kerja di startup belum booming seperti sekarang.

Dengan majunya tech industry, makin banyak lah posisi baru yang dibutuhkan seperti Data Science, Product Manager, dan Software Engineer.


2. Karir bukan cuma memanjat tangga

Dulu progresi karir di definisi sebagai gimana bisa mendapat promosi.

Semakin kesini, progresi karir bukan cuma ke atas tapi ke samping, alias mencoba bidang lain.


3. Overload informasi

Semakin banyak informasi soal pekerjaan mana yang oke.

While, ini bikin kita lebih informed, gue personally sering banget overwhelmed karena ga semua sumber itu kredibel.

Situasi ini bikin gue sering banget galau karir.

Lalu gue mencari framework untuk menjawab permasalahan gue.

Framework itu adalah Lean Career.


Apa itu lean career?

Metodologi yang terinspirasi dari Lean Startup, sebuah buku yang sangat terkenal di dunia product development.




Premis utama Lean Startup:

"Daripada menebak keinginan customer dan memproduksi solusi dalam jumlah besar, gimana kalo kita melakukan eksperimen kecil untuk memvalidasi sebenernya customer mau apa."

Waktu baca ini gue merasa, gile ini bisa banget diterapin dalam karir.


Maksudnya?

Daripada kita menebak kita mau jadi apa dalam 10 tahun ke depan, gimana kalo kita melihat karir sebagai sebuah eksperimen.

Dari situ kita belajar untuk lebih paham sebenernya apa yang sesuai dengan kebutuhan kita.


Melihat karir sebagai sebuah eksperimen juga membantu gue untuk lebih menerima kegagalan dan kesalahan dalam karir.

Pertanyaan selanjutnya adalah gimana sih konkritnya untuk ngetreat karir sebagai eksperimen?


Step 1: Lakukan karir eksperimen dalam skala kecil

Misalnya kita tertarik mau jadi marketer

Daripada langsung career shift, kita coba baca-baca, ikut course, atau ngelakuin side project (paling ideal)


Step 2: Measure performance dari eksperimen itu

Contoh mau jadi marketer, kita evaluasi beberapa hal ini setelah ngerjain project

  • Hal baru yang kita pelajari

  • Dampak yang kita hasilkan

  • Potensi financial gain

Step 3: Learn and reflect

Setelah mengerjakan project itu 3-6 bulan, kita cukup dapat data point apakah kita mau berhenti atau memperdalam interest kita untuk menjadi marketer.

Karena udah ada pengalaman side project, kita bisa lebih informed ketika membuat keputusan.


Dengan banyaknya pilihan, gue ngetreat karir sebagai eksperimen, caranya:

  1. Bikin side project di bidang yang kira kira gue suka.

  2. Measure performance kita di side project ini.

  3. Learn dan reflect apakah kita mau lanjut apa ga.

Gimana gue menggunakan lean career untuk memulai bisnis gue

Framework ini gue pakai ketika gue kepikran untuk memulai usaha sendiri

Instead of gue jump ship dan mulai dari nol, gue membuat side hustle terlebih dahulu


Gue mencoba dengan bikin konten di media sosial

Awalnya gue mau mencoba untuk mendapatkan uang dengan bikin kelas

Lumayan sih waktu itu cukup banyak orang yang join

Tapi gue belum ngerasa secure untuk cabut buat jadiin ini full time adventure


Di tengah kegalauan itu, datanglah beberapa order dari perusahaan

Beberapa di antaranya adalah mantan teman kantor gue

Yang jadi inget sama gue karena konten yang gue buat

Ada juga yang bener bener ga kenal tapi tertarik karena melihat konten gue

Perlahan tapi pasti order semakin berdatangan


Gue menutup tahun itu dengan mendapatkan 33% dari gaji gue

Data itu membuat gue semakin mantap untuk menjadikan ini perjalanan full time

Dengan ada lean career, gue jadi bisa mengambil keputusan dengan efektif


Cukup ada planning tapi ga terlalu berlarut

Juga bisa dapat data dari hasil eksperimen

Sehingga gue bisa semakin mantap dalam memutuskannya

So, selamat mencoba ya buddy!


Content of the week

Menurut riset, 57% karyawan resign karena atasan. Gaji tinggi, perusahaan bonafide, budaya kerja bagus kadang tetap gagal bikin orang stay kalo bos nya toxic. Di sini gue bahas 7 perilaku toxic yang dilakukan bos dan bikin karyawan pengen resign.

Gue sering ketemu orang-orang yang komplain tentang bos-nya. Ternyata emang menurut riset, 82% perusahaan gagal memilih kandidat yang cocok untuk jadi manager. Gue bahas alasan dibalik itu di sini.

Kita semua pengen punya karir cemerlang, sehat fisik dan mental, pertemanan berkualitas, dan keluarga harmonis. Tapi sayang ga banyak yang bisa dapat itu semua. Ada pendekatan yang realistis untuk mencapai work-life balance.

Tim ga mau cerita tiap kali ada masalah krusial di lapangan, kalau dikasi instruksi ga dijalankan, ga pernah minta masukan sama manager. Gue jelasin 3 hal yang bisa dilakukan manager ketika berada di situasi ini.

6 views0 comments

Comments


bottom of page