top of page

Stress itu bagus, kalau lo tau cara mengelolanya | #27

Insight dan cara berteman dengan stress




Selama ini stress mendapatkan reputasi buruk dalam kehidupan sehari hari

Kalau kita merasa stress, kita merasa ada yang salah

Kalau teman kita bilang lagi stress, kita merasa kasihan

Gue pun kalau lagi ngerjain kerjaan yang bikin stress, pengen deh cepet kelar


Suatu hari ada kejadian yang membuat gue mempertanyakan premis ini

Saat itu gue lagi berada di akhir sebuah project

Sehingga fokus gue adalah mendokumentasikan pekerjaan aja

Secara load enak sih tapi secara enjoyment kok ada yang kurang ya


Kenapa jauh lebih seru pas gue ngerjain project yang belum tentu berhasil?

Kenapa gue lebih menikmati pas ngeresolve conflict dengan stakeholder?

Kenapa gue merasa bosan ya ngerjain kerjaan ini?


Dari situ gue jadi sadar

Stress itu belum tentu buruk

Vicario being Vicario, kalau udah penasaran mulai lah googling dan cari bahan bacaan

Dari banyak baca literatur, gue jadi paham stress itu bagus

Kok bisa?


Ada hukum Yerkes-Dodson yang menyebutkan kalo ternyata stres di level yang tepat bikin kita mencapai performa level puncak



Dari paham teori ini, gue jadi gak anti lagi sama stres

Gue mencari cara gimana mengelola stres dan memaksimalkan manfaatnya untuk pekerjaan

Salah satu buku yang gue baca dalam proses ini adalah buku The Upside of Stress




Bukunya asli bagus banget dan gue sangat recommend kalian baca kalau lagi terkena dampak negatif dari stres

Tapi kalau lagi ga sempat, gue akan share 3 insight dan 3 practical step yang bisa lo coba untuk bisa berteman dengan stres


Insight 1: Stres itu bahaya untuk orang tertentu

Stres berdampak buruk pada orang yang punya persepsi kalo "Stres itu berbahaya untuk kesehatan mereka"

Terbukti ada penelitian yang menyebut


Stres tingkat tinggi bisa mengakibatkan risiko kematian sampai 43%

Sebaliknya orang-orang yang stres tapi ga menganggap itu berbahaya, mereka lebih ga rentan terhadap risiko itu


Dari riset ini, peneliti akhirnya menyimpulkan bahwa bukan stres aja yang membunuh orang

Melainkan kombinasi dari stres dan kepercayaan kalau stres itu berbahaya


Insight 2: Stres mendapat asosiasi negatif

Sayangnya selama ini kita memiliki persepsi kalo stres itu hanyalah hal yang negatif

Kok bisa gitu?

Penelitian tentang stres seringkali dilakukan dengan menggunakan tikus sebagai objek

Tikus dibuat stres dengan dikurung dan diserang oleh tikus yang lebih besar


Ketika tikus berperilaku depresif, konklusi yang muncul adalah “Penelitian menunjukkan stres membuat kita depresi”

Well, sebenernya ini ga sepenuhnya salah tapi ga sepenuhnya tepat juga


Kita mungkin punya kerjaan yang demanding dan butuh waktu mengurus keluarga

Tapi kita ga berada di situasi seperti tikus ini di mana kehidupan kita terancam setiap waktu


Insight 3: Stres bisa bermanfaat buat kita

Coba deh ingat-ingat lagi momen dimana kita merasa stres

Ada stres yang amit amit gamau dialamin lagi

Tapi ada juga stres yang ternyata bisa bikin kita jadi lebih baik lagi


Beberapa tahun lalu, gue pernah mengalami stres di dalam kerjaan

Gue ga cocok sama bos gue karena dia kebanyakan ngatur

At the same time, guenya juga agak bebal dan gamau diatur

Akibatnya gue males banget ngantor, apalagi kalo ada meeting sama dia


Setelah dievaluasi, gue dinyatakan ga lulus probation

Stres nambah karena harus cari kerjaan baru

Tapi dari situ gue jadi belajar gimana bisa kerja efektif sama atasan

Sejak saat itu gue hampir gue ga pernah punya masalah sama atasan gue


Kabar baiknya, lo ga harus mengalami kejadian pahit seperti ini supaya bisa mendapatkan manfaat dari stres

Ini 3 hal yang bisa lo coba setiap kali lo merasa stres


3 Tips Menghadapi Stres

Step 1: Sadari ketika merasa stres

Setiap orang memiliki penyebab stres yang berbeda

Jadi coba cari tahu apa sih yang bikin lo stres

Apakah itu ketika mau presentasi, lagi dikasi project baru, atau malah ga berhubungan sama kerjaan


Gue merasakan ini ketika gue lagi debat sama orang untuk ide yang gue percaya banget tapi orang itu ga nangkep

Rasanya kayak gue berhenti bernapas, terus detak jantung gue cepet banget, dan bawaannya kesel


Cara sadar ada 2 bisa saat itu juga dan bisa juga setelah selesai kerja

Semakin lo terbiasa, biasanya semakin cepat lo sadar kapan lo merasakan stres


Step 2: Identifikasi akar masalahnya

Ketika udah sadar kalo lo merasakan stres, berikutnya lo bisa menganalisa lebih dalam

Bisa mulai dengan pertanyaan simple

“Kenapa ya gue ngotot banget sama hal itu?”


Stres itu terjadi ketika sesuatu yang kita pedulikan berada dalam situasi “bahaya”

Dari sini gue jadi mempertanyakan apa yang sebenernya dalam bahaya

Apakah kalo orang ga nangkep ide gue itu bahaya?


Dari situ gue jadi sadar tiga hal

  1. Gue gampang kebawa perasaan kalo lagi bahas hal yang gue passionate

  2. Gue ngerasa ga butuh butuh amat sih untuk segitunya ngotot sama ide ini

  3. Ya kalo orangnya belum paham dijelasin aja


Step 3: Salurkan energi yang didapat dari stres

Ketika lagi banyak energi ini, kita salurin lah ke hal yang lebih konstruktif

Ga harus melakukan apa yang produktif tapi sebaiknya ga destruktif

Untuk tahu apa yang bisa kita lakukan, kita bisa reflect pertanyaan ini

“Apa yang bisa gue lakukan sekarang yang sejalan dengan tujuan dan value gue?”


Di kasus gue biasanya gue merilis dulu dengan journalling

Gue tulisin tuh segala kekesalan yang gue rasain

Lalu gue commit sama action item untuk selanjutnya


Final thoughts

Dari mempelajari konsep stres, gue jadi merasa lebih nyaman untuk dealing with it

Selamat berteman dengan stres, buddy!


Content of The Week

“Resign berarti ga loyal sama perusahaan” Pernah dengar pandangan seperti itu? Lingkungan kerja kadang membuat kita merasa bersalah ketika resign demi mendapat tawaran yang lebih baik, dengan alasan ga loyal. Sebenarnya loyal itu apa sih?

Dulu, gue susah banget membuat perubahan. Gagal punya habit bangun pagi, bingung ketika nerapin pendekatan baru untuk project, hampir nyerah jadi pengusaha. Awalnya gue pikir karena plan nya jelek, tapi ternyata gue gagal mengelola emosi.

Expert dan punya leadership skill aja gak cukup jadi modal untuk dipromosi. Kita juga harus jadi populer dan dikenal oleh orang-orang penting di perusahaan. Gimana caranya mendapatkan hal tersebut? Gue bahas di sini.

31 views0 comments

Comments


bottom of page